Dunia

AS Akhiri Keringanan Sanksi bagi Negara-negara Dalam Perjanjian Nuklir Iran

Amerika Serikat, Rabu (27/5), menyatakan akan mengakhiri keringanan sanksi bagi sejumlah negara yang tetap berada dalam perjanjian nuklir Iran yang dapat membawa kesepakatan tersebut ke ambang kehancuran.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menyampaikan tanggapannya atas langkah-langkah nuklir Iran yang melakukan tindakan “brinkmanship”, yakni mendorong ke ambang batas, dengan tujuan memberi tekanan bagi Amerika Serikat agar menghapuskan sanksi-sanksi ekonomi terhadap Iran sebagaimana yang disebutkan dalam Perjanjian Nuklir 2015.

“Tindakan eskalasi Iran itu tidak dapat diterima dan tidak bisa diperpanjang begitu saja,” kata Pompeo dalam sebuah pernyataan.

Presiden Donald Trump keluar dari perjanjian yang dinegosiasikan oleh pendahulunya, Barack Obama, di mana Iran secara drastis membatasi kegiatan nuklirnya.

Namun hingga kini pemerintahan Trump memberikan beberapa keringanan bagi sejumlah perusahaan, terutama dari Rusia, yang masih bergabung bersama Iran untuk melaksanakan perjanjian tersebut.

Amerika Serikat akan secara khusus menghapus beberapa keringanan yang memungkinkan modifikasi reaktor air di Arak untuk mencegah penggunaan plutonium bagi keperluan militer, demikian juga dengan ekspor sisa bahan bakar dan bahan bekas reaktor riset nuklir tersebut.

Pompeo menyampaikan Amerika Serikat telah mengeluarkan keringanan terakhir selama 60 hari yang memungkinkan sejumlah perusahaan yang terlibat untuk menyelesaikan kegiatan operasi dalam proyek tersebut.

Amerika Serikat, bagaimanapun, tidak berupaya untuk menghentikan dukungan internasional terhadap Bushehr, satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran, di mana Rusia menjadi pemasok bahan bakar.

Pompeo menjelaskan Amerika Serikat memberikan keringanan perpanjangan 90 hari kepada Bushehr untuk “memastikan keamanan dan keselamatan dalam operasi itu” namun berhak untuk memodifikasi sesuai dengan keinginannya.

Dalam membenarkan perihal tersebut, Pompeo juga merujuk pada komentar pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang baru-baru ini mengatakan hal itu merupakan “tugas Islam” untuk berjuang bagi “pembebasan Palestina” dan mengecam para pendukung Israel.

Pompeo menuduh Khamenei memicu Holocaust, dengan menyatakan: “Retorika rezim keji hanya memperkuat tekad masyarakat internasional untuk melawan ancamannya.”

Inggris, Prancis dan Jerman – bersama dengan Rusia dan China – masih mendukung perjanjian nuklir itu, dan menyampaikan perjanjian itu terlaksana dengan mengurangi aktivitas nuklir Iran. [mg/pp]



Sumber Berita

Klik untuk komentar

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top