Redaksi

Pasang Surut Timah Indonesia

Sejarah Panjang Timah di Indonesia

Timah merupakan salah satu logam yang dikenal dan digunakan paling awal dalam sejarah peradaban manusia. Sebagai logam paduan, timah telah digunakan sejak 3.500 tahun sebelum Masehi (SM), dan sebagai logam murni sejak 600 tahun SM. Saat ini ada sekitar 35 negara menghasilkan timah untuk memenuhi kebutuhan dunia.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dikenal memiliki kekayaan timah yang melimpah. Dari masa ke masa deposit timah di sekitar dua pulau besar itu laksana magnet yang menarik para pemburu tambang. Dalam prasasti Kota Kapur yang bertarikh abad ke-7 pada masa kerajaan Sriwijaya, tertulis tertulis kata “vanca” yang berarti timah, dan diyakini sebagai asal kata Bangka.

Sutedjo Sujitno dalam bukunya Sejarah Timah Indonesia (1996) memperkirakan bahwa timah di Belitung sudah ditambang sebelum abad ke-17. “Kalau dikaitkan dengan kemampuan Belitung untuk mengekspor barang dari besi (antara lain kapak dan parang) [..], sangat mungkin paku timah itu sudah diproduksi juga di masa itu. Artinya, timah sudah ditambang di Belitung sekurang-kurangnya pada abad ke-17,” tutur Sutedjo.

Ditemukan pula uang koin yang terbuat dari logam dengan tertera tahun 1091 Hijriyah (1680) atau pada masa Kesultanan Palembang. Pada koin tersebut tertulis Masruf fi Balad Palembang 1091 dan Sultan Fi Balad Palembang 1113. Dijumpai beberapa seri koin, ada yang tertulis tahun 13, 113, dan 1113 dengan bentuk yang sama tapi berbeda cara penulisan tahun. Sebagian besar uang koin kesultanan Palembang terbuat dari timah yang diambil bahan bakunya dari wilayah Bangka dan Belitung.

Catatan sejarah menyebutkan timah pertama kali ditemukan di Pulau Bangka pada sekitar tahun 1709 melalui penggalian di Sungai Olin di Kecamatan Toboali oleh orang-orang Johor, Malaysia.  Catatan lain menyebutkan, pertambangan timah dimulai di zaman Kesultanan Palembang sejak tahun 1850 dan berlangsung di bawah pemerintah kolonial Belanda. Di Pulau Bangka dilakukan oleh perusahaan milik pemerintah bernama Banka Tin Winning Bedrijf (BTW), sedangkan di Pulau Belitung dan Singkep oleh swasta yaitu Gemeenschappelijke Mijnbow Maatschappij Biliton (GMB) dan NV Singkep Tin Explitatie Maatschappij (NV SITEM).

Setelah kemerdekaan Indonesia, antara tahun 1953-1958 ketiga perusahaan tersebut dinasionalisasi menjadi tiga perusahaan negara yang terpisah. Pada tahun 1961 dibentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang-tambang Timah Negara (BPU PN Tambang Timah) untuk mengkoordinasikan ketiga perusahaan tersebut. Lalu pada tahun 1968 keempat perusahaan tersebut digabungkan menjadi satu perusahaan bernama Perusahaan Negara (PN) Tambang Timah.

Pada tahun 1950-an timah merupakan hasil pertambangan yang memberikan kontribusi kedua setelah minyak bumi. Sebagian besar produksi timah berasal dari Bangka, sisanya dari Belitung dan Singkep. Kebutuhan pasar dunia akan timah yang meningkat memberikan dorongan ke arah perluasan pertambangan timah. Pada tahun 1976, berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969 dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1969, status PT Tambang Timah dan Proyek Peleburan Timah Mentok diubah menjadi bentuk perseroan yang sahamnya dimiliki seluruhnya oleh pemerintah dan berubah nama menjadi PT Tambang Timah (Persero).

Pada tahun 1995 statusnya berubah menjadi PT Timah Tbk, dengan struktur kepemilikan 65% saham dimiliki oleh negara dan 35% oleh publik. Saat ini PT Timah Tbk dikenal sebagai perusahaan penghasil logam timah terbesar di dunia dan sedang dalam proses pengembangan usaha di luar penambangan timah dengan tetap berpijak pada kompetensi yang dimiliki. Seiring bergulirnya era otonomi daerah dan semakin meningkatnya harga timah di pasaran dunia, maka kegiatan usaha pertambangan semakin marak.

Hal ini berdampak terhadap wilayah usaha pertambangan timah PT Timah yang ketika restrukturisasi dilepas, maka oleh pelaku usaha pertambangan setempat kembali diusahakan. Bahkan sebagian telah ditambang kembali oleh masyarakat dengan cara semprot maupun dengan menggunakan alat sangat sederhana berupa saringan, dulang dan sekop.

Saat ini Indonesia merupakan negara penghasil timah terbesar kedua setelah Tiongkok, dengan menguasai pangsa produksi sebesar 26% dari total produksi dunia. Indonesia juga tercatata sebagai eksportir timah nomor satu di Indonesia mencakup 70% pangsa pasar dunia. Sementara di Tiongkok produksi timah lebih banyak diserap oleh pasar domestik. Ironisnya, selama bertahun-tahun harga timah ditentukan oleh asing alih-alih oleh Indonesia sebagai produsen dan eksportir terbesar dunia.

Terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 32 Tahun 2013 tentang ketentuan ekspor timah menjadi catatan sejarah baru perjalanan komoditi timah Indonesia. Pasalnya dalam kebijakan itu ditegaskan bahwa setiap timah yang keluar dari wilayah Indonesia harus melalui transaksi bursa timah. Artinya pelaku timah di Indonesia yang menguasai pangsa pasar dunia sekitar 80 % ikut berperan menentukan harga dunia. Implikasi kebijakan itu tentunya demi kemakmuran bangsa Indonesia dari devisa perdagangan timah di pasar internasional. Khususnya masyarakat Bangka, yang mayoritas mata pencahariannya berasal dari tambang timah akan menikmati harga yang wajar dari harga yang terbentuk di bursa timah.

Sayangnya kebijakan tersebut mulai terganggu setelah diizinkannya Bursa Berjangka Jakarta (BBJ/JFX) menyelenggarakan bursa timah sejak akhir 2019. Selama ini perdagangan timah murni batangan di bursa berjangka hanya dilakukan pada satu bursa berjangka yaitu Bursa Komoditi Derivatif Indonesia (BKDI/ICDX). Harga timah yang sebelumnya telah membaik kini kembali turun hingga di bawah USD 15.000 per metrik ton sehinga negara kehilangan pendapatan devisa mencapai USD 400 juta atau setara Rp 5,6 triliun.

Munculnya dua bursa timah menimbulkan disrupsi atau rusak dan terpuruknya harga timah. Dampaknya perdagangan timah Indonesia melalui secondary market di Singapura meningkat tajam, naik hingga sekitar 100% sepanjang semester I/2019, akibat menurunnya kepercayaan pihak asing terhadap pasar Indonesia. Meningkatnya country risk perdagangan timah murni batangan di Indonesia membuat para pelaku timah khususnya end user lebih memilih membeli timah melalui Singapura. Indonesia dinilai rendah dalam kepastian hukum terkait perdagangan timah murni batangan.

Di negara manapun di dunia tidak ada yang memperdagangkan komoditas yang sama di dua bursa. Sebagai contoh, perdagangan timah di Inggris hanya dilakukan di bursa London Metal Exchange (LME) dan di Malaysia hanya diperdagangkan di Kuala Lumpur Tin Market (KLTM). Kebijakan dua bursa timah mendegradasi kedaulatan Indonesia dalam menentukan harga timah dan menurunkan kepercayaan global terhadap Indonesia.

Pasang Surut Timah Indonesia
Klik untuk komentar

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top