Ekonomi

Perkiraan Analis tentang Industri Penerbangan Pasca Covid-19 |BCC Indonesia

Maskapai akan mencari pola normal baru dalam industri penerbangan.

BBCINDO.COM, SINGAPURA -– Analis penerbangan, Brendan Sobie mengatakan, akan ada dampak di dunia penerbangan terkait social distancing, meskipun Covid-19 telah berlalu. Menurut dia, salah satu dampak yang dimungkinkan terjadi adalah volume penumpang yang hanya diisi setengah dari biasanya, dan awak kabin yang mengenakan masker.

“Ini semua adalah awal, ketika maskapai berusaha mencari tahu norma baru,” kata dia seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (30/4).

Menurut dia, hal tersebut bisa menjadi hal baru yang kemudian dianggap lumrah. Terlebih, ketika saat ini beberapa maskapai seperti Jetstar Asia, Air New Zealand, KLM dan United Airlines juga telah melaksanakannya.

Beberapa upaya untuk mengurangi kursi memang menjadi pilihan utama dalam bisnis penerbangan saat ini. Jetstar Asia contohnya, dalam setiap penerbangan mengklaim hanya mengisi kursi tak lebih dari 112. Di mana jumlah itu, tak sampai 60 persen kapasitas awalnya.

Bahkan, Air New Zealand, KLM dan United Airlines sengaja memblokir kursi tertentu agar tak dipesan dalam pemasarannya. Dari semua upaya itu, para maskapai memiliki tujuan untuk memastikan jarak aman di dalam pesawat, khususnya dari penyebaran virus.

Tak hanya itu, layanan seperti makanan dan air yang disajikan di dalam pesawat juga akan dikurangi. Jika melihat dari sisi maskapai, cara tersebut tentu akan berdampak pada pendapatan maskapai yang semakin kecil. Sehingga kenaikan tarif ke depannya juga dipastikan akan terjadi untuk menutupi keperluannya.

“Pendapatan bisa jauh di bawah 50 persen. Kargo saat ini merupakan sumber pendapatan utama bagi maskapai,” tambah Sobie.

Terpisah, Direktur Jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) Alexandre de Juniac menuturkan, untuk memaksimalkan upaya tersebut, sepertiga kursi pesawat memang harus dikosongkan. Karenanya, kenaikan harga tiket sekitar 50 persen ia anggap menjadi solusi, setidaknya untuk mendapatkan laba minimum bagi setiap maskapai.

“Dan itu berarti, jika jarak sosial diberlakukan, perjalanan murah sudah berakhir,” ungkap dia.

Gagasan itu juga disetujui oleh pendiri konsultasi penerbangan Endau Analytics, Shukor Yusof. Yusuf menjelaskan, pasca 9/11 ada kebutuhan keamanan yang meningkat di dunia penerbangan, di mana kebutuhan ke depannya juga tentu akan berdampak pada biaya pendukung.

Namun demikian, ekonom Universitas Manajemen Singapura Terence Fan, menyatakan bahwa tiket murah masih akan bertahan beberapa waktu pasca krisis Covid-19 usai. Di mana, hal itu ia sebut akan meningkatkan gairah orang-orang untuk menghidupkan kembali transportasi masal udara.

Meski ada berbagai kemungkinan lain di dunia penerbangan, Terence Fan menegaskan, maskapai penerbangan diperkirakan hanya berupaya untuk menjaga jarak aman dalam kabin dan menentukan harga penjualan. “Pada titik ini, maskapai sangat ingin membuat orang naik pesawat. Jarak sosial ini adalah salah satu cara untuk mendapatkannya kembali,” katanya.

Dia menambahkan, tambahan pemeriksaan kesehatan juga dimungkinkan terjadi dalam perkembangannya. Terlebih ketika Emirates telah melakukannya sejak pekan lalu. Di mana, kerja sama dengan Otoritas Kesehatan Dubai menjadi solusi, khususnya pada penerbangan repatriasi dari Dubai ke Tunisia.

Dengan diberlakukannya pembatasan perjalanan di banyak negara, IATA memperkirakan bahwa kerugian maskapai global akan mencapai 314 miliar dolar AS pada tahun ini. Bahkan, pada pekan lalu, maskapai Virgin Australia yang sebagian asetnya dimiliki oleh Singapore Airlines, juga telah mengumumkan secara terbuka, telah memasuki administrasi sukarela karena dampak corona.



Sumber Berita

Klik untuk komentar

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top