Ekonomi

Singapura akan Perpanjang Program Keringanan Pinjaman Bank |BCC Indonesia

Bank sentral Singapura telah melonggarkan kebijakan moneter selama pandemi.

BBCINDO.COM, SINGAPURA — Bank sentral Singapura berencana memperpanjang pemberi pinjaman program moratorium utang negara akibat pandemi Covid-19. Salah satu langkah kunci yang sedang dibahas oleh Otoritas Moneter Singapura dan bank-bank lokal dengan memperpanjang program keringanan utang, sekaligus bersama pelaku industri yang paling terkena dampak krisis berpotensi mendapat bantuan hingga enam bulan.

Seperti dilansir dari laman Bloomberg, Selasa (29/9) pemberian bantuan ditargetkan kepada mereka yang paling membutuhkan bantuan. Saat ini rincian rencana dan jenis peminjam yang akan dicakup dalam perpanjangan masih diselesaikan.

Pihak berwenang menggunakan alat fiskal dan moneter untuk memberikan dukungan terhadap apa yang mungkin menjadi rekor resesi yang menyertai pandemi. Pemerintah memperkenalkan langkah-langkah dukungan tambahan sebesar 8 miliar dolar Singapura pada bulan lalu, menjadikan total bantuan pandemi yang dijanjikan Singapura menjadi lebih dari 100 miliar dolar Singapura.

Mereka memperpanjang hingga Maret sebagian besar subsidi upah yang akan berakhir pada Agustus dan dikurangi tergantung pada seberapa berdampak pada sektor yang berbeda. Wakil Perdana Menteri Heng Swee Keat memperingatkan langkah-langkah tersebut tidak akan terbatas karena mereka sangat menarik cadangan dan berisiko menopang bisnis yang tidak dapat dijalankan.

Di bawah tindakan MAS yang diumumkan pada Maret, perusahaan kecil dan menengah dapat memilih untuk menunda pembayaran pokok pinjaman berjangka aman mereka hingga akhir tahun. Konsumen dapat menunda pembayaran pokok dan bunga atas hipotik perumahan. Individu yang kehilangan pendapatan dapat meminta suku bunga yang lebih rendah untuk kredit tanpa jaminan.

Analis Bloomberg Intelligence Rena Kwok mengatakan langkah tersebut dapat mendorong sebagian besar pembentukan kredit macet ke tahun depan, dengan kerugian kredit mencapai puncaknya pada akhir 2021 dan mulai kembali normal pada tahun berikutnya.

Direktur Pelaksana MAS Ravi Menon pada Juli mengatakan regulator sedang berbicara dengan bank dan perusahaan keuangan tentang bagaimana memudahkan peminjam secara bertahap melanjutkan pembayaran setelah langkah-langkah keringanan hutang berakhir.

“Bank sentral telah melonggarkan kebijakan moneter untuk membantu menstabilkan ekonomi dan telah memastikan likuiditas yang cukup lembaga keuangan,” ucapnya.

Ia juga meminta Bank Singapura untuk memprioritaskan pinjaman dengan membatasi pembayaran dividen mereka. Sedangkan tingkat infeksi virus korona di Singapura menurun dan pihak berwenang berusaha membuka kembali ekonomi secara bertahap, banyak pembatasan pada bisnis dan perjalanan tetap diberlakukan.

Seperti pesaing global mereka, pemberi pinjaman terbesar di Singapura DBS Group Holdings Ltd., Oversea-Chinese Banking Corp. dan United Overseas Bank Ltd. bersiap menghadapi gelombang hutang yang membengkak. Per 30 Juni, utang dalam program keringanan menyumbang sekitar lima persen dari total buku pinjaman DBS, 10 persen dari OCBC, dan 16 persen dari UOB.



Sumber Berita

Klik untuk komentar

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top